Sasuke's Mangekyō Sharingan

Rabu, 30 Januari 2013

Rangkuman Bab Sistem Ekskresi Pada Manusia




Rangkuman Bab Sistem Ekskresi Pada Manusia | Rangkuman Bab Sistem Ekskresi Pada Manusia ini semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman yang mencari referensi tambahan untuk sekolahnya | Rangkuman Bab Sistem Ekskresi Pada Manusia semoga bermanfaat ya. Terima Kasih... | 

Di dalam tubuh manusia terjadi metabolisme. Metabolisme merupakan
proses molekul suatu zat dalam sel dari bentuk sederhana ke bentuk kompleks
atau sebaliknya. Metabolisme tidak menghasilkan bahan-bahan yang bermanfaat
bagi tubuh. Jika bahan-bahan tersebut terus berada di dalam tubuh kita, akan
terjadi ketidakseimbangan kimia di dalam tubuh kita. Ketidakseimbangan tersebut
akan mengganggu proses-proses metabolisme yang lain.

Proses pengeluaran bahan-bahan sisa metabolisme ini disebut ekskresi.
Ekskresi membantu menjaga homeostasis dengan mempertahankan lingkungan
dalam tubuh agar tetap stabil dan bebas dari materi-materi yang
membahayakan. Bahan-bahan hasil metabolisme yang harus dikeluarkan dari
dalam tubuh di antaranya adalah karbon dioksida, kelebihan air, dan urea.
Karbon dioksida dihasilkan di antaranya dari proses respirasi seluler, sedangkan
urea adalah zat kimia yang berasal dari hasil pemecahan protein. Alat-alat
ekskresi yang ada pada manusia adalah kulitparu-paruhati, dan ginjal.

Sistem ekskresi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sistem ekskresi adalah sistem pembuangan zat-zat sisa pada makhluk hidup seperti karbon dioksidaurearacun dan lainnya.

1. Kulit
Sebagai alat ekskresi, kulit mengeluarkan keringat. Keringat terdiri atas
air dan garam-garam mineral (terutama NaCl, itu sebabnya keringat terasa
asin), serta sedikit sampah buangan, seperti urea, asam urat, dan amonia.
Keringat dikeluarkan tubuh dalam jumlah besar ketika melakukan kegiatan
berat dan berada di lingkungan yang panas. Pengeluaran keringat juga
dipengaruhi oleh makanan, keadaan kesehatan, dan emosi.
Kulit dibagi menjadi dua lapisan utama, yaitu epidermis dan dermis
. Epidermis merupakan lapisan kulit paling luar dan lebih tipis
dibandingkan lapisan dermis. Epidermis terdiri atas beberapa lapisan, yaitu
stratum korneum (lapisan tanduk), stratum lusidumstratum granulosum,
dan stratum germinativum (Kurnadi, 1995 : 234).


Kulit merupakan lapisan terluar tubuh yang berfungsi sebagai pelindung
tubuh dari kerusakan/pengaruh lingkungan. Kulit berfungsi sebagai
pelindung terhadap kerusakan-kerusakan fisik akibat gesekan, penyinaran,
kuman-kuman, panas, zat kimia, dan lain-lain. Selain itu, kulit juga berfungsi
untuk mengurangi kehilangan air, mengatur suhu tubuh, menerima rangsang
dari luar, dan ekskresi.
Sebagai alat ekskresi, kulit terutama mengeluarkan limbah metabolisme
berupa garam-garam (terutama garam dapur) dan sedikit urea, yang dibuang

melalui pengeluaran keringat. Dari kapiler darah yang terdapat pada kulit,
kelenjar keringat akan menyerap air dan larutan garam serta sedikit urea.
Air beserta larutan garam dan urea yang terlarut kemudian dikeluarkan
melalui pembuluh darah ke permukaan kulit tempat air diuapkan dan
merupakan penyerap panas tubuh kita.
Kulit terdiri atas lapisan luar
yang disebut epidermis dan lapisan
dalam yang disebut dermis. Lapisan
luar berlapis-lapis terdiri atas korneum
yang mati dan selalu mengelupas,
stratum lucidum, stratum granulosum
yang mengandung pigmen,
dan stratum germinativum yang terusmenerus
membentuk sel-sel baru ke
arah luar. Di bawah lapisan
epidermis, terdapat dermis yang
mengandung akar rambut, pembuluh
darah, kelenjar, dan saraf. Di
bawah dermis terdapat lapisan lemak
yang bertugas menghalangi pengaruh
perubahan suhu di luar
tubuh. 

Aktivitas kelenjar keringat ada di bawah pengaruh pusat pengatur suhu
badan dan sistem saraf pusat. Sistem ini dirangsang oleh perubahanperubahan
suhu di dalam pembuluh darah, kemudian rangsangan
dipindahkan oleh saraf simpatetik menuju kelenjar keringat. Oleh karena itu,
jumlah kandungan larutan ataupun banyaknya keringat yang dikeluarkan
selalu berbeda, semuanya ditujukan agar suhu badan selalu tetap.
Pengeluaran keringat yang berlebihan, seperti pada orang-orang yang
bekerja keras akan menyebabkan lebih cepat merasa haus dan sering
mengalami “lapar garam”. Demikian pula orang yang terkena terik matahari,
keringat yang keluar akan banyak mengandung larutan garam. Kehilangan
garam-garam dari larutan darah ini dapat menimbulkan kejang-kejang dan
pingsan.




2. Paru-paru
Paru-paru berperan dalam proses ekskresi karena paru-paru
mengeluarkan gas karbon dioksida dan air melalui proses respirasi.
Dalam paru-paru, terdapat alveoli tempat terjadinya pertukaran gas antara
oksigen dan karbon dioksida. Dinding alveoli dan kapiler sangat tipis dan basah
sehingga memudahkan pertukaran gas
Setelah udara masuk ke alveolus, oksigen masuk melalui dinding
alveolus dan segera memasuki dinding kapiler darah. Sebaliknya, karbon
dioksida dan air terlepas dari darah dan masuk ke alveoli untuk selanjutnya
dikeluarkan dari dalam tubuh.

Karbon dioksida dan air sebagai hasil sisa metabolisme karbohidrat
dan lemak, harus dikeluarkan dari sel-sel tubuh melalui pembuluh darah,
ke organ pernapasan yaitu paru-paru. Proses pengeluaran CO2 dan H2O
dari sel-sel tubuh/jaringan ke paru-paru ini melalui suatu proses berantai
yang cukup kompleks yang disebut pertukaran klorida (Chloride shift).
Pertukaran klorida ini melibatkan peran sel darah merah, dan plasma darah.
Jadi, materi yang diekskresikan dari paru-paru ialah sisa metabolisme CO2
dan uap air. Pembahasan tentang paru-paru secara lebih detail dapat
dipelajari pada sistem pernapasan.



3. Hati
Hati termasuk dalam sistem ekskresi karena hati mengeluarkan empedu
Setiap hari, hati menyekresi sekitar 600–1.000 mL cairan
empedu. Cairan empedu terdiri atas kolesterol, lemak, hormon pelarut lemak,
dan lesitin. Fungsi cairan empedu, di antaranya mengemulsi lemak dalam
usus halus. Cairan empedu tersebut disimpan dalam kantung empedu untuk
disalurkan ke dalam usus halus.

Sebagai bagian dari sistem ekskresi, hati menghasilkan produk ekskretori,
seperti zat pewarna cairan empedu (bile pigmen), yaitu bilirubin. Bilirubin
berasal dari pemecahan hemoglobin darah yang berlangsung dalam hati.

Hati terdiri dari bagian lobulus-lobulus yang berbentuk segi enam.Setiap lobulus terdiri atas jejeran hepatosit (sel hati) seperti jari-jari roda
melingkari suatu vena centralis. Di antara hepatosit terdapat sinusoid
(kapiler yang melebar). Pada dinding sinusoid terdapat makrofag yang


disebut sel Kuppfer, yang dapat memfagositosis sel-sel darah rusak dan bakteri . Hati
disuplai oleh dua pembuluh darah, yaitu vena porta hepatica yang
berasal dari lambung dan usus,
mengandung darah yang miskin
oksigen, tetapi kaya nutrien (asam amino, monosakarida, asam lemak,
vitamin yang larut dalam air dan mineral). Arteri hepatica, yaitu
cabang dari arteri coeliaca yang kaya oksigen.

Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh kita. Hati dapat berfungsi
sebagai kelenjar sekresi karena mampu menghasilkan zat-zat yang berguna
dan sekaligus dapat berfungsi sebagai kelenjar ekskresi karena dapat
menetralkan zat-zat racun yang selanjutnya harus dibuang. Sebagai kelenjar
sekresi, hati menghasilkan garam empedu yang dapat mengemulsikan lemak
sehingga lebih mudah dicerna, sedangkan sebagai kelenjar ekskresi, hati melakukan dua fungsi penting, yaitu menetralisasi sisa metabolisme protein
menjadi urea yang kemudian diekskresikan melalui urine, dan
merombak sel-sel darah merah yang telah tua menjadi bilirubin yang
kemudian diekskresikan melalui feses. 

Protein dalam tubuh setelah mengalami metabolisme akan menghasilkan
zat-zat sisa yang mengandung nitrogen. Metabolisme protein
akan menghasilkan asam amino yang
selanjutnya diuraikan menjadi
NH4OH dan senyawa NH3. Senyawa terakhir tersebut bersifat racun bagi
sel sehingga harus segera dibuang.
NH3 dalam sel segera diikat oleh karbon dioksida (CO2) dan asam
amino ornitin membentuk asam amino sitrulin. Asam-asam amino ini
tidak bersifat racun, relatif kecil
sehingga masih dapat berdifusi
meninggalkan sel masuk aliran darah dan akhirnya ke hati. Sitrulin yang
masuk ke hati selanjutnya diubah oleh
enzim sitrulin transaminase menjadi arginin, dan arginin akan diubah oleh
enzim arginase menjadi ornitin kembali dan urea. Urea keluar dari hati
bersama aliran darah dan kemudian akan disaring melalui glomerulus dalam
ginjal, dan keluar bersama urine. Ornitin yang dihasilkan kemudian
digunakan kembali untuk menetralisasi NH3. Proses perubahan dari ornitin
ke ornitin kembali merupakan suatu siklus dan disebut siklus Krebs Ornitin
atau siklus Krebs Urea

Ada kurang lebih 10 juta sel
eritrosit (sel darah merah) yang
dilepaskan tiap detik dari tempat pembuatannya, dan sebanyak itu
pula yang rata-rata harus dirombak
lagi. Eritrosit yang telah tua akan
menjadi rusak dan harus segera dibinasakan di hati. Ada sel-sel
khusus yang bertugas “menangkap”
atau merombak eritrosit tua tersebut yang disebut histiosit. Hemoglobin
yang terkandung dalam eritrosit
yang telah tua akan dipecah menjadi heme dan globin. Heme terdiri atas
zat besi (Fe) dan cincin porfirin. Zat besi tersebut kemudian diambil dan
disimpan di hati selanjutnya disimpan
dalam sumsum tulang untuk pembentukan sel darah merah baru.
Cincin porfirin diubah menjadi
biliverdin dan direduksi lagi menjadi
bilirubin. Bilirubin dilepaskan ke
dalam darah. Di dalam usus, bilirubin
diubah menjadi urobilinogen
yang kemudian diekskresikan oleh
ginjal dalam bentuk urine. Urobilinogen memberikan warna kuning pada
urine, sedangkan urobilinogen dan
bilirubin memberi warna kuning pada tinja/feses. Skema perombakan
sel darah merah oleh hati



4. Ginjal
Ginjal adalah organ utama dalam sistem ekskresi. Ginjal mengeluarkan
urea, kelebihan air, dan material sampah lainnya dalam bentuk urine. Urine
dialirkan melalui ureter menuju kantung urine. Keinginan untuk
mengeluarkan urine muncul ketika kantung urine terisi penuh. Urine
dikeluarkan dari tubuh melalui uretra.

Ginjal manusia berbentuk seperti kacang dengan panjang kira-kira 13
cm, lebar 8 cm, dan tebal 2,5 cm. Ginjal berukuran lebih kurang seukuran
dengan kepalan tangan Anda. Ukuran organ tersebut memang kecil, tetapi
mempunyai fungsi dan efektivitas kerja yang sangat mengagumkan. Manusia
mempunyai dua buah ginjal yang terletak di sebelah kanan dan kiri tubuhnya
Dari bagian luar ke dalam, ginjal terdiri atas tiga lapisan,
yaitu korteks renalis (korteks), medula renalis (medula) dan pelvis renalis.
Unit fungsional terkecil dari ginjal disebut nefron. Nefron terletak di
korteks renalis dan medula renalis. Nefron terdiri atas tiga bagian utama,
yaitu glomerulus (tempat darah disaring), kapsula Bowman, dua buah
tubulus panjang. Tubulus tersebut dibagi menjadi tubulus kontortus
proksimal, lengkung Henle, tubulus kontortus distal, dan yang terakhir
adalah tubulus pengumpul 


Ginjal merupakan alat ekskresi utama pada vertebrata, termasuk manusia.
Limbah metabolisme yang dibuang melalui ginjal adalah urine yang
mengandung air, garam-garam, dan limbah yang mengandung nitrogen.
Dengan diproduksinya urine, maka ginjal kita akan mempertahankan
volume dan komposisi darah/cairan tubuh serta mempertahankan
keseimbangan air, elektrolit, dan pH tubuh (homeostasis). Hal ini dapat terjadi
karena ginjal dapat mengekskresi sampah metabolisme dan air dalam jumlah
tertentu secara selektif agar cairan tubuh kita selalu dalam keadaan yang
optimum untuk kesehatan.

a. Struktur Ginjal

Dalam tubuh manusia terdapat sepasang ginjal yang terletak di dekat
tulang-tulang pinggang. Ginjal manusia berbentuk seperti kacang merah
berukuran sekitar 2,5 x 7 x 10 cm. Dari tiap-tiap ginjal, urine dialirkan oleh
pembuluh ureter ke kandung urine (vesica urinaria), dan melalui uretra
dikeluarkan dari tubuh.
Ginjal terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan luar yang disebut korteks
atau kulit ginjal, dengan tebal sekitar 1 cm. Pada bagian ini terdapat bagian
ginjal yang paling penting, yaitu nefron, yang merupakan unit fungsional
penyusun utama ginjal. Bagian dalam ginjal disebut medula atau sumsum
ginjal. Medula memiliki bentuk seperti piramid yang puncaknya mengelilingi
pelvis. Pada puncak piramid terdapat lubang-lubang kecil tempat keluarnya
pembuluh penyalur urine ke dalam pelvis



B Gangguan pada Sistem Ekskresi

Gangguan pada sistem ekskresi yang umum terjadi antara lain sebagai
berikut.
1. Sistitis (Cystitis) adalah peradangan yang terjadi di kantung urinaria.
Biasanya, terjadi karena infeksi oleh bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

2. Hematuria, terjadi ketika ditemukan eritrosit dalam urine. Penyebabnya
bermacam-macam, seperti adanya batu dalam ginjal, tumor di renal
pelvis, ureter, kandung kemih, kelenjar prostat atau uretra.

3. Glomerulonefritis adalah peradangan yang terjadi di glomerulus
sehingga proses filtrasi darah terganggu.

4. Batu ginjal adalah adanya objek keras yang ditemukan di pelvis renalis
ginjal. Komposisi batu ginjal adalah asam urat, kalsium oksalat, dan
kalsium fosfat. Batu ginjal terjadi karena terlalu banyak mengonsumsi
garam mineral, tetapi sedikit mengonsumsi air. Batu ginjal tersebut
sering mengakibatkan iritasi dan pendarahan pada bagian ginjal yang
kontak dengannya.

5. Gagal ginjal, terjadi karena ketidakmampuan ginjal untuk melakukan
fungsinya secara normal. Hal ini dapat terjadi karena senyawa toksik,
seperti merkuri, arsenik, karbon tetraklorida, insektisida, antibiotik,
dan obat penghilang sakit pada tingkat yang tinggi. Gagal ginjal dapat
diatasi dengan dialisis. Kita lebih mengenalnya sebagai proses cuci
darah. Jika kerusakan ginjal sangat parah, dapat dilakukan transplantasi
ginjal yang baru

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.